Showing posts with label materi kuliah. Show all posts
Showing posts with label materi kuliah. Show all posts

TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)

DEFINISI TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)
TQM merupakan salah satu tema yang menarik dalam kajian ilmu manajemen, baik manajemen operasi, manajemen pemasaran, manajemen, sumber daya manusia maupun manajemen strategi. Penelitian tentang TQM banyak kita temukan dalam jurnal nasional maupun dalam jurnal internasional. Filippini (1997) yang meneliti evolusi manajemen operasi sejak tahun 1980-an sampai 1990-an menemukan bahwa manajemen kualitas merupakan salah satu topik yang paling relevan dalam manajemen operasi.  Salah satu alasan penelitian ini banyak dilakukan karena TQM telah menjadi filosofi sebagian besar perusahaan, baik perusahaan manufaktur, perusahaan jasa maupun perusahaan dagang (dalam pengamatan penulis, TQM lebih banyak dilakukan diperusahaan manufaktur dan perusahaan jasa, walaupun tidak menutup kemungkinan untuk diterapkan diperusahaan dagang).
Selama ada istilah yang menyatakan bahwa sesuatu yang berkualitas itu mahal. Ini adalah pernyataan yang sebenarnya kurang tepat. Perusahaan yang menjaga kualitas memiliki dua keunggulan: unggul dalam pendpatan dan unggul dalam biaya. Unggul dalam pendapatan karena mereka menawarkan produk yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan konsumen. Unggul dalam biaya karena mereka bisa melakukan proses produksi yang efesien dan meminimalisir “waste” atau pemborosan. Dua keunggulan ini bisa dipertahankan oleh perusahaan dengan melakukan continius improvement atau perbaikan terus-menerus. Dua keunggulan ini yang membuat perusahaan yang menjaga kualitas akan memiliki keunggulan bersaing yang berkelanjutan. Keunggulan bersaing inilah yang membuat perusaahaan bisa bertahan dalam persingan dan menghadapi perubahan lingkungan yang cepat.
TQM (yang dikenal juga dengan Manajemen Kualitas Terpadu, Manajemen Kualitas Total dan Manajemen Mutu Total) merupakan sesuatu yang harus ketahui dan dipahami oleh pelaku bisnis (praktisi) maupun akademisi. Filosofi ini bias diterapkan di berbagai jenis perusahaan atau lembaga, karena berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada konsumen. Tulisan ini berusaha untuk menguraikan kembali pengertian dan manfaat penerapan TQM dalam organisasi. Semoga tulisan ini bisa menjadi salah satu bahan untuk didiskusikan.
Definisi tentang TQM ini telah banyak kita temukan. Walaupun menggunakan bahasa yang berbeda, tapi memiliki persamaan. Pada intinya, TQM berusaha untuk menekankan pentingnya peningkatan kualitas dan menjaga kualitas tersebut pada semua proses organisasi. Wruck dan Jensen (1994) menyatakan bahwa inti dari TQM adalah kemampuan organisasi untuk menciptakan nilai dan membawa efesiensi kepada organisasi dengan mengoptimalkan semua pengetahuan, informasi dan sumber daya yang ada di organisasi tersebut.
Dalam tulisan ini, penulis mencoba untuk menampilkan beberapa definisi tentang TQM yang dirujuk dari beberapa jurnal penelitian dan buku teks. Definisi TQM menurut para ahli adalah sebagai berikut:
  1. A holistic management philosophy that strives for continuous improvement in all functions of an organization, and it can be achieved only if the total quality concept is utilized from the acquisition of resources to customer service after the sale.  (Kaynak, 2003).
  2. A fhilosophy or an approach to management made up of a set of mutually reinforcing principles, each of which is supported by a set of practices and techniques (Dean dan Bowen, 1994)
  3. An integrated approach to achieving and  sustaining  high  quality output,  focusing  on  the  maintenance  and  continuous  improvement  of  processes  and  defect  prevention  at  all  levels  and  in  all functions  of  the  organization,  in  order  to meet  or  exceed  customer  expectations (Flynn, Schroeder, dan Sakakibara (1994).
  4. Suatu cara untuk meningkatkan performansi secara terus menerus (continius performance improvement) pada setiap level operasi atau proses, dalam setiap area fungsional dari suatu organisasi, dengan menggunakan semua sumber daya manusia dan modal yang tersedia (Gaspersz, 2008).
  5. Semua aktivitas dari fungsi manajemen secara keseluruhan yang menentukan kebijaksanaan kualitas, tujuan-tujuan dan tanggung jawab serta mengimplementasikannya melalui alat-alat seperti perencanaan kualitas (quality planning), pengendalian kualitas (quality control), jaminan kualitas (quality assurance) dan peningkatan kualitas (quality improvement) (ISO 8402).

Kaynak (2003) menjelaskan bahwa TQM adalah Sebuah filosofi manajemen yang holistik yang berusaha untuk melakukan perbaikan terus-menerus di semua fungsi, lini maupun divisi organisasi, dan dapat dicapai hanya jika konsep kualitas terpadu dimanfaatkan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk pelayanan konsumen purna jual. Definisi ini menjelaskan kepada kita semua bahwa TQM merupakan konsep yang menyatu dan menyeluruh dalam sebuah organisasi. Menjaga kualitas dimulai dari saat pengadaan bahan baku, pengolahan, pengiriman  dan menjaga hubungan baik dengan konsumen tersebut. Karena itu, organisasi atau perusahaan bisa meningkatkan dan mempertahankan kualitas ketika organsisasi / perusahaan menjaga hubungan baik dengan supplier (pemasok) dan dengan konsumen, disamping menjaga keharmonisan iternal tentunya.
Definisi quality management menurut Flynn et al. (1994 : 342) adalah: pendekatan terpadu untuk mencapai dan mempertahankan output yang berkualitas tinggi, fokus terhadap pemeliharaan dan perbaikan proses yang berkelanjutan dan pencegahan kegagalan pada semua level dan fungsi organisasional, dalam rangka untuk memenuhi atau melampaui harapan konsumen. Karena itu, perusahaan yang menerapkan TQM akan fokus kepada peningkatan kepuasan konsumen, baik dalam bentuk produk maupun proses.

Read comments

Sistem Manajemen Kualitas (QMS) : Definisi dan Tahapan Penerapan Manajemen KualitasM

Ketatnya persaingan di jaman globalisasi menyebabkan suatu perusahaan saling berlomba untuk mendapatkan konsumen sebanyak mungkin dengan berbagai macam sumber daya yang dimiliki, pada sisi lain tidak dapat dipungkiri bahwa konsumen semakin selektif dalam memilih sebuah produk barang/jasa yang diminati. Tidak hanya cukup dengan memberikan kualitas pelayanan terbaik dalam mencapai apa yang disebut dengan customer satisfaction akan tetapi kualitas barang/jasa yang ditawarkan juga harus mampu memberikan jaminan mutu, sehingga mau tidak mau agar mampu memenuhi tuntukan konsumen tersebut penerapan Sistem Manajemen Kualitas rupa-rupanya tidak dapat dihindari lagi.


Sebelum sampai pada Sistem Manajemen Kualitas, apakah definisi kualitas itu? Menurut beberapa ahli, definisi kualitas adalah:
1.     Philip B. Crosby
Kualitas adalah kesesuaian terhadap persyaratan (conformance to requirement of spesification), seperti jam yang tahan air atau sepatu yang tahan lama. Pendekatan Crosby adalah proses top-down.
2.       W. Edwards Deming
Kualitas adalah pemecahan masalah untuk mencapai penyempurnaan terus-menerus. Pendekatan Deming adalah bottom-up.
3.    Joseph M. Juran
Kualitas adalah kesesuaian dengan penggunaan (fitness for use), seperti sepatu yang dirancang untuk olahraga. Pendekatan Juran adalah orientasi pada pemenuhan harapan pelanggan.
4.    Westinghouse
Kualitas adalah performa kerja yang dapat memenuhi keinginan customer secara cepat dan tepat.
Kualitas menurut ISO 9000:2000 adalah derajat atau tingkat karakteristik yang melekat pada produk yang mencukupi persyaratan atau keinginan.
Secara konvensional Kualitas biasanya menggambarkan karakteristik langsung suatu produk, seperti: penampilan, keandalan, kemudahan penggunaan, estetika, dan sebagainya. Definisi strategik menyatakan bahwa kualitas adalah segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan. (Gasperz, p.4)

Pengertian Sistem Manajemen Kualitas
Menurut Gaspersz (2001), Sistem manajemen kualitas (QMS) merupakan sekumpulan prosedur terdokumentasi dan praktek-praktek standar untuk manajemen sistem yang bertujuan menjamin kesesuaian dari suatu proses dan produk (barang dan atau jasa) terhadap kebutuhan atau persyaratan tertentu. Kebutuhan atau persyaratan itu ditentukan atau dispesifikasikan oleh pelanggan dan organisasi.
Sistem manajemen kualitas mendefinisikan bagaimana organisasi menerapkan praktek-praktek manajemen kualitas secara konsisten untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan pasar. Terdapat beberapa karakteristik umum dari sistem manajemen kualitas, antara lain sebagai berikut (Gaspersz, 2001, pp.10-11):
  • Sistem manajemen kualitas mencakup suatu lingkup yang luas dari aktivitas-aktivitas dalam organisasi modern. Kualitas dapat didefinisikan melalui lima pendekatan utama, antara lain sebagai berikut: transcendent quality yaitu suatu kondisi ideal menuju keunggulan; product based quality yaitu suatu atribut produk yang memenuhi kualitas; user based quality yaitu kesesuaian atau ketepatan dalam penggunaan produk; manufacturing based quality yaitu kesesuaian terhadap persyaratan-persyaratan standar; value based quality yaitu derajat keunggulan pada tingkat harga yang kompetitif.
  • Sistem manajemen kualitas berfokus pada konsistensi dari proses kerja. Hal ini sering mencakup beberapa tingkat dokumentasi terhadap standar-standar kerja.
  • Sistem manajemen kualitas berlandaskan pada pencegahan kesalahan sehingga bersifat proaktif, bukan pada deteksi kesalahan yang bersifat reaktif. Patut diakui pula bahwa banyak sistem manajemen kualitas tidak akan efektif sepenuhnya pada pencegahan semata, sehingga sistem manajemen kualitas juga harus berlandaskan pada tindakan korektif terhadap masalah-masalah yang ditemukan. Dalam kaitan dengan hal ini, sistem manajemen kualitas merupakan suatu closed loop system yang mencakup deteksi, umpan balik, dan korelasi. Proporsi terbesar harus diarahkan pada pencegahan kesalahan sejak tahap awal.
  • Sistem manajemen kualitas mencakup elemen-elemen: tujuan (objectives), pelanggan (customer), hasil-hasil (outputs), proses-proses (processes), masukan-masukan (inputs), pemasok (suppliers), dan pengukuran untuk umpan balik dan umpan maju (measurement for feedback and feedforward).

Tahapan Penerapan Sistem manajemen Kualitas
Terdapat beberapa tahapan dalam menerapkan suatu sistem manajemen kualitas, antara lain sebagai berikut (Gaspersz, 2001, pp. 11-17):
  1. Memutuskan untuk mengadopsi suatu standar sistem manajemen mutu yang akan diterapkan.
  2. Menetapkan suatu komitmen pada tingkat pemimpin senior dari organisasi
  3. Menetapkan suatu kelompok kerja atau komite pengaruh yang terdiri dari manajer-manajer senior.
  4. Menugaskan wakil manajemen (management representative).
  5. Menetapkan tujuan-tujuan kualitas dan implementasi system
  6. Meninjau ulang sistem manajemen kualitas yang sekarang.
  7. Mendefinisikan struktur organisasi dan tanggung jawab.
  8. Menciptakan kesadaran kualitas (quality awareness) pada semua tingkat dalam organisasi.
  9. Mengembangkan peninjauan ulang dari sistem manajemen kualitas dalam manual kualitas (buku panduan).
  10. Menyepakati bahwa fungsi-fungsi dan aktivitas dikendalikan oleh prosedur-prosedur.
  11. Mendokumentasikan aktivitas terperinci dalam prosedur operasional atau prosedur terperinci.
  12. Memperkenalkan dokumentasi.
  13. Menetapkan partisipasi karyawan dan pelatihan dalam sistem.
  14. Meninjau ulang dan melakukan audit sistem manajemen kualitas.

Read comments

PENILAIAN KINERJA

Apa yang dimaksud dengan kinerja

Suatu penelitian telah memperlihatkan bahwa suatu lingkungan kerja yang menyenangkan sangat penting untuk mendorong tingkat kinerja karyawan yang paling produktif. Dalam interaksi sehari-hari, antara atasan dan bawahan, berbagai asumsi dan harapan lain muncul. Ketika atasan dan bawahan membentuk serangkaian asumsi dan harapan mereka sendiri yang sering agak berbeda, perbedaan-perbedaan ini yang akhirnya berpengaruh pada tingkat kinerja. Kinerja adalah hasil seseorang secara keseluruhan selama periode tertentu di dalam melaksanakan tugas, seperti standar hasil kerja, target atau sasaran atau kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dan telah disepakati bersama.(Rivai & Basri, 2004: 14 ).

Apabila dikaitkan dengan performance sebagai kata benda (noun), maka pengertian performance atau kinerja adalah hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau kelompok orang dalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan secara legal, tidak melanggar hukum dan tidak bertentangan dengan moral dan etika. (Rivai & Basri, 2004:16).

Penilaian kinerja sendiri memiliki beberapa pengertian yaitu:
1.      Suatu sistem formal dan terstruktur yang mengukur, menilai, dan mempengaruhi sifat-sifat yang berkaitan dengan pekerjaan, perilaku, dan hasil, termasuk tingkat ketidakhadiran. Fokusnya adalah untuk mengetahui seberapa produktif seorang karyawan dan apakah ia bisa berkinerja sama atau lebih efektif pada masa yang akan datang, sehingga karyawan, organisasi, dan masyarakat semuanya memperoleh manfaat. (Schuler & Jackson, 1996:3)
2.      Pencapaian tujuan yang telah ditetapkan merupakan salah satu tolak ukur kerja individu.

Menurut Robbins (1996) yang dikutip oleh Rivai dan Basri dalam bukunya yang berjudul performance apprasial, pada halaman 15 menyatakan bahwa ada tiga kriteria dalam melakukan penilaian kinerja individu yaitu:

a).    tugas individu.
b).    perilaku individu.
c).    dan ciri individu.

3.      Dari beberapa pengertian kinerja di atas maka dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah suatu prestasi yang dicapai oleh seseorang dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya, sesuai dengan standar kriteria yang ditetapkan dalab pekerjaan itu. Prestasi yang dicapai ini akan menghasilkan suatu kepuasan kerja yang nantinya akan berpengaruh pada tingkat imbalan.

Suatu kinerja individu dapat ditingkatkan apabila ada kesesuaian antara pekerjaan dan kemampuan. Kinerja individu sendiri dipengaruhi oleh kepuasan kerja. Kepuasan kerja itu sendiri adalah perasaan individu terhadap pekerjaannya. Perasaan ini berupa suatu hasil penilaian mengenai seberapa jauh pekerjaannya secara keseluruhan mampu memuaskan kebutuhannya. Dalam hal ini dibutuhkan suatu evaluasi, yang kemudian dikenal dengan penilaian kinerja.

Penilaian kinerja merupakan metode mengevaluasi dan menghargai kinerja yang paling umum digunakan. Dalam penilaian kinerja melibatkan komunikasi dua arah yaitu antara pengirim pesan dengan penerima pesan sehingga komunikasi dapat berjalan dengan baik. Penilaian kinerja dilakukan untuk memberi tahu karyawan apa yang diharapkan pengawas untuk membangun pemahaman yang lebih baik satu sama lain. Penilaian kinerja menitikberatkan pada penilaian sebagai suatu proses pengukuran sejauh mana kerja dari orang atau sekelompok orang dapat bermanfaat untuk mencapai tujuan yang ada.

Tujuan penilaian kinerja.
Schuler dan jackson dalam bukunya yang berjudul Manajemen sumber daya manusia edisi keenam, jilid kedua pada tahun 1996 menjelaskan bahwa sebuah studi yang dilakukan akhir-akhir ini mengidentifikasi ada dua puluh macam tujuan informasi kinerja yang berbeda-beda, yang dapat dikelompokkan dalam empat macam kategori, yaitu:

1. Evaluasi yang menekankan perbandingan antar-orang.
2. Pengembangan yang menekankan perubahan-perubahan dalam diri seseorang dengan berjalannya waktu.
3. Pemeliharaan sistem.
4. Dokumentasi keputusan-keputusan sumber daya manusia bila terjadi peningkatan.

Efektifitas dari penilaian kinerja diatas yang dikategorikan dari dua puluh macam tujuan penilaian kinerja ini tergantung dalam sasaran bisnis strategis yang ingin dicapai. Oleh sebab itu penilaian kinerja diintegrasikan dengan sasaran-sasaran strategis karena berbagai alasan (Schuler&Jackson ,1996 : 48), yaitu:
  1. Mensejajarkan tugas individu dengan tujuan organisasi yaitu, menambahkan deskripsi tindakan yang harus diperlihatkan karyawan dan hasil-hasil yang harus mereka capai agar suatu strategi dapat hidup.
  2. Mengukur kontribusi masing-masing unut kerja dan masing-masing karyawan.
  3. Evaluasi kinerja memberi kontribusi kepada tindakan dan keputusan-keputusan administratif yang mempetinggi dan mempermudah strategi.
  4. Penilaian kinerja dapat menimbulkan potensi untuk mengidentifikasi kebutuhan bagi strategi dan program-program baru.

Manfaat penilaian kerja
Manfaat penilaian kinerja bagi semua pihak adalah agar bagi mereka mengetahui manfaat yang dapat mereka harapkan. (Rivai & Basri, 2004:55)
Pihak-pihak yang berkepentingan dalam penilaian adalah:
(1)   Orang yang dinilai (karyawan)
(2)   Penilai (atasan, supervisor, pimpinan, manager, konsultan) dan
(3)   Perusahaan.

Manfaat bagi karyawan yang dinilai
Bagi karyawan yang dinilai, keuntungan pelaksanaan penilaian kinerja adalah (Rivai&Basri,2004 :58), antara lain:
  1. Meningkatkan motivasi.
  2. Meningkatkan kepuasan hidup.
  3. Adanya kejelasan standard hasil yang diterapkan mereka.
  4. Umpan balik dari kinerja lalu yang kurang akurat dan konstruktif.
  5. Pengetahuan tentang kekuatan dan kelemahan menjadi lebih besar.
  6. Pengembangan tantang pengetahuan dan kelemahan menjadi lebih besar, membangun kekuatan dan mengurangi kelemahan semaksimal mungkin.
  7. Adanya kesempatan untuk berkomunikasi ke atas .
  8. Peningkatan pengertian tentang nilai pribadi.
  9. Kesempatan untuk mendiskusikan permasalahan pekerjaan dan bagaimana mereka mengatasinya.
  10. Suatu pemahaman jelas dari apa yang diharapkan dan apa yang perlu untuk dilaksanakan untuk mencapai harapan tersebut.
  11. Adanya pandangan yang lebih jelas tentang konteks pekerjaan.
  12. Kesempatan untuk mendiskusikan cita-cita dan bimbingan apa pun dorongan atau pelatihan yang diperlukan untuk memenuhi cita-cita karyawan.
  13. Meningkatkan hubungan yang harmonis dan aktif dengan atasan.


Manfaat bagi penilai (supervisor/manager/penyelia)
Bagi penilai, manfaat pelaksanaan penilaian kinerja (Rivai&Basri, 2004 : 60) adalah;
  1. Kesempatan untuk mengukur dan mengidentifikasikan kecenderungan kinerja karyawan untuk perbaikan manajeman selanjutnya.
  2. Kesempatan untuk mengembangkan suatu pandangan umum tentang pekerjaan individu dan departemen yang lengkap.
  3. Memberikan peluang untuk mengembangkan sistem pengawasan baik untuk pekerjaan manajer sendiri, maupun pekerjaan dari bawahannya.
  4. Identifikasi gagasan untuk peningkatan tentang nilai pribadi.
  5. Peningkatan kepuasan kerja .
  6. Pemahaman yang lebih baik terhadap karyawan, tentang rasa takut, rasa grogi, harapan, dan aspirasi mereka.
  7. Menigkatkan kepuasan kerja baik terhadap karyawan dari para manajer maupun dari para karyawan.
  8. Kesempatan untuk menjelaskan tujuan dan prioritas penilai dengan memberikan pandangan yang lebih baik terhadap bagaimana mereka dapat memberikan kontribusi yang lebih besar kepada perusahaan.
  9. Meningkatkan rasa harga diri yang kuat diantara manajer dan juga para karyawan, karena telah berhasil mendekatkan ide dari karyawan dengan ide para manajer.
  10. Sebagai media untuk mengurangi kesejangan antara sasaran individu dengan sasaran kelompok atau sasaran departemen SDM atau sasaran perusahaan.
  11. Kesempatan bagi para manajer untuk menjelaskan pada karyawan apa yang sebenarnya diingikan oleh perusahaan dari para karyawan sehingga para karyawan dapat mengukur dirinya, menempatkan dirinya, dan berjaya sesuai dengan harapan dari manajer.
  12. Sebagai media untuk menigkatkan interpersonal relationship atau hubungan antara pribadi antara karyawan dan manajer.
  13. Dapat sebagai sarana menimgkatkan motivasi karyawan dengan lebih memusatkan perhatian kepada mereka secara pribadi.
  14. Merupakan kesempatan berharga bagi manajer agar dapat menilai kembali apa yang telah dilakukan sehingga ada kemungkinan merevisi target atau menyusun prioritas kembali.
  15. Bisa mengidentifikasikan kesempatan untuk rotasi atau perubahan tugas karyawan.

Manfaat bagi perusahaan
Bagi perusahaan, manfaat penilaian adalah, (Rivai&Basri, 2004 : 62) antara lain:
  1. Perbaikan seluruh simpul unit-unit yang ada dalam perusahaan karena:
1)      Komunikasi menjadi lebih efektif mengenai tujuan perusahaan dan nilai budaya perusahaan.;
2)      Peningkatan rasa kebersamaan dan loyalitas;
3)      Peningkatan kemampuan dan kemauan manajer untuk menggunakan keterampilan dan keahlian memimpinnya untuk memotivasi karyawan dan mengembangkan kemauan dan keterampilan karyawan.
  1. Meningkatkan pandangan secara luas menyangkut tugas yang dilakukan oleh masing-masing karyawan;
  2. Meningkatkan kualitas komunikasi;
  3. Meningkatkan motivasi karyawan secara keseluruhan;
  4. Meningkatkan keharmonisan hubungan dalam pencapaian tujuan perusahaan;
  5. Peningkatan segi pengawasan melekat dari setiap kegiatan yang dilakukan oleh setiap karyawan;
  6. Harapan dan pandangan jangka panjang dapat dikembangkan;
  7. Untuk mengenali lebih jelas pelatihan dan pengembangan yang dibutuhkan;
  8. Kemampuan menemu kenali setiap permasalahan;
  9. Sebagai sarana penyampaian pesan bahwa karyawan itu dihargai oleh perusahaan;
  10. Budaya perusahaan menjadi mapan. Setiap kelalaian dan ketidakjelasan dalam membina sistem dan prosedur dapat dihindarkan dan kebiasaan yang baik dapat diciptakan dan dipertahankan. Berita baik bagi setiap orang dan setiap karyawan akan mendukung pelaksanaan penilaian kinerja, mau berpartisipasi secara aktif dan pekerjaan selanjutnya dari penilaian kinerja akan menjadi lebih baik;
  11. Karyawan yang potensil dan memungkinkan untuk menjadi pimpinan perusahaan atau sedikitnya yang dapat dipromosikan menjadi lebih mudah terlihat, mudah diidentifikasikan, mudah dikembangkan lebih lanjut, dan memungkinkan peningkatan tanggung jawab secara kuat;
  12. Jika penilaian kinerja ini telah melembaga dan keuntungan yang diperoleh perusahaan menjadi lebih besar, penilaian kinerja akan menjadi salah satu sarana yang paling utama dalam meningkatkan kinerja perusahaan.

Read comments

Penyusunan Anggaran Perusahaan dagang dan Perusahaan Jasa

Penyusunan Anggaran  Perusahaan Dagang

Perusahaan dagang kegiatannya membeli barang untuk langsung dijual sehingga dalam perusahaan dagang terdapat anggaran belian barang dagangan dan sediaan barang dagangan.
Sediaan barang dagangan awal merupakan sediaan barang dagangan akhir bulan lalu,begitu juga dengan bayar belian.
Anggaran laba rugi merupakan tujuan dari penyusunan anggaran operasional. Oleh karena itu, dalam penyusunan anggaran laba rugi diperlukan beberapa unsur dari anggaran operasional, seperti : anggaran jualan, anggaran belian, anggaran beban jualan dan administrasi.
Anggaran variabel mengklasifikasikan biaya menjadi dua jenis, yaitu : biaya variabel dan biaya tetap.
Analisis selisih pada perusahaan dagang terdiri atas analisis selisih harga pokok jualan dan analisis selisih volume jualan.
Analisis selisih harga pokok jualan mencakup analisis selisih harga dan analisis selisih volume.

untuk file dokumen lebih lengkap beserta contoh perhitungannya silahkan download disini:

Read comments

BAB 1 PERENCANAAN & PENGANGGARAN PERUSAHAAN

Salah satu fungsi manajemen adalah perencanaan. Perencanaan (planning) merupakan tindakan yang dibuat berdasarkan fakta dan asumsi mengenai gambaran kegiatan yang akan dilakukan di masa mendatang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Tujuan utama perencanaan untuk memberikan  proses umpan maju (feedforward) agar dapat memberikan arahan kepada setiap manajer  dalam keputusan.

Penganggaran (budgeting) merupakan proses menyusun anggaran perusahaan sehingga anggaran perusahaan merupakan hasil dari penganggaran perusahaan. Penganggaran perusahaan berarti menjelaskan, menghitung, dan menyusun anggaran perusahaan; sedangkan anggaran perusahaan menampilkan bentuk dari anggaran perusahaan, seperti laporan neraca atau laporan laba rugi tanpa disertai penjelasan, penghitungan maupun penyusunannya.

Jenis rencana meliputi tujuan, peraturan dan kebijakan, metode dan standar, strategi dan organisasi, program, prosedur, anggaran, jadwal, dan rencana lainnya.

Tujuan

Sebelum menetapkan tujuan, terlebih dahulu manajemen puncak (misalnya direktur utama) menilai variabel relevan, kekuatan, dan kelemahan perusahaan.

Tujuan adalah tujuan umum yang menyatakan secara luas keadaan atau kedudukan di masa mendatang dan hasil akhir dari aktivitas perusahaan dalam jangka panjang. Contoh tujuan umum perusahaan : memperbaiki kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat secara lebih luas, dll.

Sasaran adalah tujuan khusus yang menggambarkan ruang lingkup yang jelas serta memberikan arah kepada usaha yang dilakukan dalam jangka pendek. Contoh sasaran : target laba 15% dari modal disetor.
Peraturan dan kebijakan
oPeraturan adalah suatu petunjuk, perintah, larangan, kompensasi, hak, sanksi, dan kewajiban dalam pelaksanaan pekerjaan.
oKebijakan adalah petunjuk menyeluruh secara lisan, tulisan atau yang dimaksudkan untuk menetapkan batas umum dan arah tindakan yang akan dilaksanakan. Contoh kebijakan : menjual produk secara tunai sebanyak 30% – 40% triwulan berikutnya, dan 30% triwulan berikutnya lagi.
file dokumen lebih lengkapnya silahkan download disini : 

Read comments

BAB 2 FUNGSI DAN JENIS ANGGARAN

Fungsi Anggaran

1.Fungsi Perencanaan
 
Anggaran merupakan alat perencanaan tertulis yang menuntut pemikiran serta teliti dan memberikan gambaran yang lebih rinci dalam unit dan uang
2.. Fungsi Pelaksanaan
 
Anggaran sebagai pedoman pelaksanaan pekerjaan, artinya, sebelum pekerjaan dilaksanakan terlebih dahulu mendapat persetujuan yang berwewenang (terutama dalam hal keuangan.
3.Fungsi Pengawasan
 
Anggaran merupakan alat pengawasan atau pengendalian. Pengawasan berarti mengevalusi (menilai) terhadap pelaksanaan pekerjaan, dengan cara :
1.Membandingkan
realisasi dengan rencana ( anggaran )
2.
Melakukan tindakan perbaikan bila dipandan perlu.

JENIS ANGGARAN

Segi Dasar Penyusunan

1.Anggaran Variable (variable budget) adalah anggaran yang disusun berdasarkan interval aktivitas tertentu dan pada dasarnya merupakan suatu sri anggaran yang dapat disesuaikan pada tinggak aktivitas yang berbeda.

2.Anggaran Tetap (Fixed Budget) adalah anggaran yang disusun berdasarkan tingkat kapasitas tertentu.

Segi Cara Penyusunan

1.Anggaran Periodik (Periodic Budget) adalah anggaran yang disusun untuk satu periode tertentu.

2.Anggaran Kontinu (continous budget) adalah anggaran yang dibuat untuk mengadakan perbaikan atas anggaran yang pernah dibuat.

¨

Read comments